A partir de agora, somos Elev8

Somos mais do que apenas uma corretora. Somos um ecossistema completo de trading — tudo que você precisa para analisar, operar e crescer está em um único lugar. Pronto para aprimorar seu trading?

Rupiah Bertahan di Bawah 16.900, Pasar Menanti Data Inflasi AS

  • Rupiah diperdagangkan di sekitar 16.866 per dolar AS, melemah 0,38% dengan pergerakan harian relatif sempit.
  • Prospek konsumsi domestik menguat, dengan Indeks Penjualan Riil Februari diprakirakan naik 6,9% (yoy) menjelang Ramadan dan Idulfitri.
  • Pelaku pasar global menunggu data Inflasi AS (CPI) dan PCE, yang akan memberi petunjuk arah kebijakan Federal Reserve dan pergerakan dolar.

Pada perdagangan Rabu, rupiah mencatat pelemahan terbatas terhadap dolar AS, dengan pasangan USD/IDR diperdagangkan di sekitar 16.866,9, naik sekitar 64 poin atau 0,38% dibandingkan penutupan sebelumnya. Pergerakan dalam perdagangan harian relatif sempit, dengan kisaran 16.831,4 hingga 16.874,0, mencerminkan pasar yang cenderung berhati-hati dan bergerak dalam fase konsolidasi setelah kenaikan dolar dalam beberapa sesi terakhir.

Secara teknis, struktur grafik harian masih memperlihatkan kecenderungan penguatan dolar sejak awal tahun. Pola higher lows yang terbentuk sejak Januari menunjukkan tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya mereda. Area 16.800 kini menjadi penyangga jangka pendek, sementara 16.900–17.000 tetap menjadi zona resistance psikologis yang terus diuji pasar. Dalam rentang lebih luas, USD/IDR masih bergerak dalam kisaran 16.085 hingga 17.019 sepanjang 52 minggu terakhir, sehingga posisi saat ini yang mendekati batas atas kisaran tersebut membuat pelaku pasar cenderung menahan langkah sambil menunggu katalis baru.

Dari sisi domestik, prospek konsumsi yang dirilis kemarin menunjukkan sinyal yang cukup positif. Indeks Penjualan Riil (IPR) pada Februari 2026 diprakirakan tumbuh 6,9% (yoy) dan 4,4% (mtm), terutama didorong peningkatan penjualan suku cadang dan aksesori, perlengkapan rumah tangga, serta sandang menjelang Ramadan dan Idulfitri. Sebelumnya, pada Januari 2026, penjualan eceran masih mencatat pertumbuhan 5,7% (yoy) meski secara bulanan turun 2,7% (mtm) seiring normalisasi konsumsi setelah periode Natal dan Tahun Baru. Dari sisi harga, tekanan inflasi diprakirakan mereda pada April pasca-Idulfitri, sebelum berpotensi meningkat kembali pada Juli seiring kenaikan permintaan menjelang tahun ajaran baru.

Sementara itu, sentimen global masih dipengaruhi dinamika geopolitik dan pasar energi. Harga minyak turun setelah rally besar yang sempat membawa harga ke level tertinggi sejak Juni 2022, menyusul sinyal dari Presiden AS Donald Trump bahwa konflik Timur Tengah berpotensi mereda serta rencana pelepasan cadangan minyak oleh International Energy Agency. Namun ketegangan belum sepenuhnya mereda, setelah Iran dilaporkan menghadapi serangan intens dari AS dan Israel, sementara Islamic Revolutionary Guard Corps meningkatkan operasi militernya.

Di tengah latar belakang tersebut, fokus pasar kini tertuju pada rilis Indeks Harga Konsumen Amerika Serikat, yang akan diikuti oleh Personal Consumption Expenditures Price Index pada akhir pekan. Kedua indikator ini akan menjadi petunjuk penting bagi arah kebijakan Federal Reserve. Inflasi yang lebih tinggi dari prakiraan berpotensi memperkuat dolar AS, yang pada akhirnya akan menekan mata rupiah. Sebaliknya, data yang lebih lunak dapat memberi ruang stabilisasi bagi rupiah sekaligus menjaga minat terhadap aset safe haven seperti emas.

Indikator Ekonomi

Belanja Konsumsi Perorangan Inti - Indeks Harga (Thn/Thn)

Belanja Konsumsi Perorangan (Personal Consumption Expenditures/PCE) Inti, yang dirilis oleh Biro Analisis Ekonomi, mengukur perubahan nilai semua barang dan jasa yang dibeli oleh penduduk AS pada periode tertentu, tidak termasuk komponen makanan dan energi yang lebih fluktuatif. Data triwulanan dirilis dalam laporan Produk Domestik Bruto (PDB) yang lebih luas. Data tersebut merupakan proksi untuk belanja konsumen, pendorong utama ekonomi AS. Secara umum, pembacaan yang tinggi dianggap sebagai bullish bagi Dolar AS (USD), sementara pembacaan yang rendah dianggap sebagai bearish.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Jum Mar 13, 2026 12.30

Frekuensi: Bulanan

Konsensus: 3.1%

Sebelumnya: 3%

Sumber: US Bureau of Economic Analysis

Setelah menerbitkan laporan PDB, Biro Analisis Ekonomi AS merilis data Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) bersama dengan perubahan bulanan dalam Pengeluaran Pribadi dan Pendapatan Pribadi. Pembuat kebijakan FOMC menggunakan Indeks Harga PCE Inti tahunan, yang tidak termasuk harga makanan dan energi yang bergejolak, sebagai pengukur utama inflasi mereka. Pembacaan yang lebih kuat dari perkiraan dapat membantu USD mengungguli para pesaingnya karena akan mengisyaratkan kemungkinan pergeseran hawkish dalam panduan ke depan The Fed dan sebaliknya.

USD: Risiko Inflasi Membuat Pelonggaran The Fed Terbatas – DBS

Ekonom DBS Group Research Eugene Leow menyoroti bahwa konsensus memprakirakan IHK AS sebesar 2,4% tahun-ke-tahun dan 0,3% bulan-ke-bulan untuk bulan Februari, dengan para investor sangat sensitif terhadap kejutan di sisi atas
Leia mais Previous

Minyak: Risiko Geopolitik dan Sempitnya Hormuz – Rabobank

Tim RaboResearch Global Economics & Markets dari Rabobank menyoroti bahwa harga minyak tidak sepenuhnya mencerminkan meningkatnya risiko di sekitar Selat Hormuz, meskipun serangan Iran yang terus berlanjut terhadap infrastruktur energi Teluk dan serangan AS.
Leia mais Next